TUGAS MENEJEMEN KELAS

 NAMA : REMUTI
NO BP: 1620143
 PEMBIMBING: Yessi rifmasari,


SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN(PGSD)





















 BAB I PEMDAHULUAN

 Pada akhir-akhir ini, manajemen sebagai salah satu disiplin ilmu popular sehingga banyak kajian yang memfokuskan pembahasannya pada menejemenihan, baik yang berupa seminar, pelatihan, kuliah maupun pembukaan program studi. Program studi mnajemen meliputi manajemen ekonomi, manajemen sumber daya manusia, dan tak ketinggalan manajemen pendidikan. Dalam perkembangannya, manajemen telah diimplementasikan dalam berbagai persoalan yang bersifat bathiniyah, seperti manajemen qalbu. Menurut Made Pidarta, manajemen sekolah sangat berbeda dengan manajemen bisnis dan merupakan bagian dari manajemen Negara. Hal ini jelas berbeda karena perbedaan objek. Kalau manajemen Negara mengejar kesuksesan program pembangunan, maka manajemen sekolah mengejar kesuksesan perkembangan anak manusia melalui pelayanan-pelayanan pendidikan yang memadai.[1] Kesamaan manajemen baik dalam dunia bisnis, Negara, maupun pendidikan, manajemen memiliki peran penting untuk mengantarkan kemajuan organisasi. Menurut Nanang Fattah, teori manajemen mempunyai peran (role) atau membantu menjelaskan prilaku organisasi yang berkaitan dengan motivasi, produktivitas, dan kepuasan (satisfaction).[2] Dengan demikian, manajemen merupakan faktor dominan dalam kemajuan organisasi. Oleh karenanya, manajemen mendapat perhatian yang semakin serius baik di kalangan pakar maupun praktisi. Hal itu meliputi fungsi-fungsi manajemen kepala sekolah, manajemen kurikulum/pembelajaran, dan interaksi warga sekolah, baik interaksi antara sekolah dan masyarakat, interaksi dalm sekolah dank e;as itu sendiri, dan yang lebih penting adalah bagaimana agar produk sekolah sesuai dengan kebutuhan stakeholders. Implementasi manajemen pendidikan islam, sampai saat ini masih mengalami kendala yang berarti. Hal ini terjadi di sebabkan karena belum familiarnya konsep-konsep manajemen pendidikan pada institusi-institusi pendidikan islam. Tidaklah mudah menerapkan inovasi manajemen dalam waktu yang singkat, namun fenomena yang terlihat menunjukkan bahwa keinginan untuk melakukan perubahan di sektor manajemen persekolahan telah mempengaruhi system penyelenggaraan pendidikan di lingkungan institusi pendidikan islam.


 BAB II PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Manajemen Pembelajaran 1. Pengertian Manajemen pembelajaran Secara etomologis, kata manajemen (management) berarti, pimpinan, direksi dan pengurus, yang diambil dari kata kerja “manage” dalam bahasa perancis berarti tindakan membimbing atau memimpin. Sedangkan dalam bahasa latin, management berasal dari kata “managiere” terdiri dari dua kata yaitu manus dan agere.Manus Berarti tangan dan “agere” berarti melakukan atau melaksanakan.[3] Perencanaan Pembelajaran Perencanaan adalah salah satu fungsi awal dari aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Menurut Anderson (1989:47), perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seseorang dimasa depan. Yang dimaksud dengan perencanaan pembelajaran menurut Davis (1996) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh seorang guru untuk merumuskan tujuan mengajar. Dalam kedudukannya sebagai seorang manajer, guru melakukan perencanaan pembelajaran yang mencakup usaha untuk : a. Menganilisis tugas. b. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan atau belajar. c. Menulis tujuan belajar. d. Model perencanaan Pengajaran Suatu model perencanaan pengajaran sistematik, mengandung beberapa langkah, yaitu : - Identifikasi Tugas-tugas. - Analisis Tugas. - Penetapan Kemampuan. - Spesifikasi Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap. - Identifikasi Kebutuhan Pendidikan dan Latihan. - Perumusan Tujuan. - Kriteria Keberhasilan Program. - Organisasi Sumber-sumber Belajar. - Pemilihan Strategi Pengajaran. - Uji Lapangan Program. - Pengukuran Realibitas Program. - Perbaikan dan Penyesuaian. - Pelaksanaan Program. - Monitoring Program. 2. Tujuan Pengajaran Setiap lembaga pendidikan nasional bermuara kepada pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan yang dinyatakan dalam pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003: ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mecerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi serta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan dalam pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan atau prilaku (performance) murid-murid yang diharapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang disajikan oleh guru. Menurut pendapat Bloom (1956) bahwa tujuan pengajaran harus mengaju kepada tiga dominan (kawasan pembinaan) untuk pengembangan pribadi anak, yaitu :Kognitif,Afektif, dan Psikomotorik. Guru sebagai manajer dapat mengorganisasikan bahan pelajaran untuk disampaikan kepada murid dengan beberapa metode, yaitu : Metode Ceramah. Metode Demontrasi. Metode Diskusi. Metode Tanya-Jawab. Metode Driil atau Latihan Siap. Metode Resitasi atau Pemberian Tugas Balajar. 3. Pengelolaan Kelas Arikunto (1992) berpendapat bahwa pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh guru (penanggung-jawab) dalam membantu murid sehingga dicapai kondsi optimal pelaksanaan kegiatan belajar mengajar seperti yang diharapkan. Pengelolaan kelas berkaitan dengan dua kegiatan utama, yaitu : a. Pengelolaan yang berkaitan dengan siswa. b. Pengelolaan yang berkaitan dengan fisik (ruangan, perobot, alat pelajaran). Adapun tujuan pengeloalaan kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.Pengelolaan kelas yang berkaitan dengan siswa adalah mengenai besar atau kecilnya ukuran atau jumlah siswa dalam satu kelas. Besarnya jumlah siswa dalam satu kelas diharapkan dapat memberikan dampak, diantaranya : a. Produktivitas kelompok maupun pengetahuan pribadi tentang hasil (tugas). b. Perselisiihan kelompok, rasa harga diri individu (relasi antar anggota siswa). Davis (1991) menyimpulkan bahwa efektivitas kelompok atau kelas dalam mencapai tujuan belajar adalah produk dari orientasi tugas dan relasi. 4. Kepemimpinan dalam Pembelajaran Kepemimpinan sebagi prilaku seorang pimpinan dalam mempengaruhi individu dan kelompok orang dapat berlangsung dimana saja. Kepemimpinan dalam organisasi sekolah adalah kepemimpinan pendidikan. Menurut Sue dan Glover (2000) dalam konteks pembelajaran, peran guru adalah mendorong murid untuk mengembangkan kapasitas pembelajaran, yang memungkinkan aktivitas manajemen, struktur organisasi, sistem dan proses yang diperlukan untuk menangani kegiatan mengajar dan peluang belajar para murid secara maksimal. Dalam situasi pembelajaran diperlukan manajemen pembelajaran untuk semuayang terlibat dalam memudahkan proses pembelajaran. Guru adalah motivator untuk mempengaruhi siswa melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu, guru sebagi pemimpin melakukan dua usaha utama, yaitu : a. Memperkokoh Motivasi Siswa. b. Memilih Strategi mengajar yang tepat. Menurut Gordon (1997:23) hubungan antara guru dengan murid paling tidak ada beberapa hal yang musti diperhatikan, yaitu : a. Keterbukaan dan transparan. b. Penuh perhatian. c. Saling ketergantungan dari pihak yang satu dengan pihak yang lain. d. Keterpisahan, untuk memungkikan guru dan murid menumbuhkan dan mengembangkan keunikan, kreativitas, dan individualis masing-masing. e. Pemenuhan kebutuhan bersama. 4. Memperkuat Motivasi Siswa Persoalan motivasi bukan hanya kajian dalam psikologi, tetapi juga berkaitan dengan manajemen dan pembelajaran. Menurut Davis (1996) kegiatan motivasi ialah ”Kekuatan yang tersembunyi didalam diri dan mendorong seseorang berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khusus”. Menurut Mitchell (Sue dan Glover, 2000) berpendapat bahwa motivasi adalah sebagai suatu tingkatan kejiwaan berkaitan dengan keinginan individu dan pilihan untuk melakukan prilaku tertentu. Robins (1984) mengemukakan tingkatan kebutuhan sebagai dasar motivasi sesuai dengan pendapat Maslow, yaitu : a. Kebutuhan Psikologis, b. Mencakup : Lapar, Haus, dan Dorongan Seksual. c. Kebutuhan Rasa Aman, d. Mencakup : Keamanan dan Perlindungan Fisik dan Emosi. e. Kebutuhan Sosial, f. Mencakup : Kepemilikan, Penerimaan, dan Persahabatan. g. Kebutuhan Harga Diri, Mencakup : (Faktor Internal) Harga Diri, Otonomi, dan Prestasi.(Faktor Eksternal) Status, Pengakuan, dan Perhatian. h. Kebutuhan Aktulisasi Diri, Mencakup : Pertumbuhan, Pencapaian Potensi Individu. 5. Evaluasi Pembelajaran Dalam konteks manajemen pembelajaran, kontrol (pengawasan) adalah suatu pekerjaan yang dilakukan seorang guru untuk menentukan apakah fungsi organisasi serta pimpinananya telah dilaksanakan dengan baik mencapai tujuan-tjuan yang ditentukan. Johnson, dkk (1978) mengutip pendapat Henri Fayol (1949), Mokler (1970), dan Wiener (1950), yang memberikan dasar teori kontrol lebih awal mengenai konsep ilmu tentang kontrol diatas sistem yang kompleks, informasi dan komunikasi. Oleh karena itu, Hamalik memberikan tiga implikasi, yaitu : Evaluasi adalah proses yang terus-menerus bukan hanya pada akhir pengajaran, akan tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai dengan berakhirnya pengajaran. Proses evaluasi senantiasa diarahkan kepada tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran. Evaluasi menuntut pengguanaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan. Jenis-jenis Evaluasi adalah sebagai berikut : a. Evaluasi formatif adalah yang berfungsi untuk memperbaiki proses belajar mengajar. b. Evaluasi sumatif adalah evaluasi untuk menentukan angka kemajuan hasil belajar siswa. Insrumen evaluasi hasil belajar disebut juga teknik tes atau teknik non tes. Evaluasi menempati posisi yang sangat strategis dalam proses belajar mengajar (PBM). Kedudukan evaluasi hampir sama dengan tujuan dan memiliki hubungan yang erat dalam sistem pengjaran. 7. Peningkatan Mutu dalam Pembelajaran Spanbauer dalam Hubbard, ed ((1993:394) menjelaskan sekolah-sekolah yang berhasil, telah menerapkan dua strategi utama, yaitu : Mengunakan pendekatan sistem yang melakukan peninjauan ulang secara lebih cepat terhadap proses yang berhubungan langsung dengan pelajar. Hal yang paling penting dan langsung berdampak positif adalah terlibatnya guru-guru secara aktif dalam pembuatan keputusan dan manajemen sekolah. Spanbauer (1993) mengemukakan komponen-komponen dari model implementasi Total Quality Management (TQM) dalam pendidikan sebagai berikut : A. Kepemimpinan. B. Pendekatan Fokus Terhadap Pelanggan. C. Iklim Organisasi. D. Tim Pemecah Masalah. E. Tersedia Data yang Bermakna. F. Metode Ilmiah dan Alat-alat. G. Pendidikan dan Pelatiahan. Untuk mencapai keberhasilan pembelajaran unggul, maka harus diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut : A. Guru, B. Siswa, C. Metode Mengajar, D. Manajemen Pembelajaran, E. Psikologi Pembelajaran, F. Lingkungan Belajar, Kode etik guru tersebut harus dipegang dan ditaati dengan baik oleh guru. Pekerjaan atau profesi guru bukanlah profesi yang sederhana, guru tidak hanya sebatas mengajar dan melaksanakan pembelajaran saja namun juga perlu melakukan pengabdian untuk memajukan dunia pendidikan. Pelanggaran terhadap kode etik guru dapat dijatuhi sanksi hingga pencabutan profesi serta hak dan kewajiban sebagai guru. Kode etik guru Indonesia dapat dirumuskan sebagai himpunan nilai-nilai dan norma-norma profesi guru yang tersusun dengan baik dan sistematik dalam suatu sistem yang utuh dan bulat




 BAB III KESIMPULAN

 Pembelajaran adalah membangun pengalaman belajar siswa dengan berbagai keterampilan proses sehingga mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Menyenangkan dimaksudkakn agar guru mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatian secara penuh. Pembelajaran yang Menyenangkan merupakan usaha membangun pengalaman belajar siswa dengan berbagai keterampilan proses untuk mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru, melalui penciptaan kegiatan belajar yang beragam dan mengkondisikan suasana belajar sehingga mampu memberikan pelayanan pada berbagai tingkat kemampuan dan gaya belajar siswa, serta siswa lebih terpusat perhatiannya secara penuh.

Daftar pustaka

Abu-Duhou, Ibtisam, school-Based Mangement (Manajemen berbasis sekolah),penerjemah Noryamin Aini, dkk, (Jakarta : Logos wacana Ilmu, 2002) Arifin, HM, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Akasara, 1991) Al-Asri Al-Jadid, ingklizikh wal arabiah, (Beirut: Darul Fikr, 1968) Mannulang, Dasar-dasar management, (Jakarta : Ghalia, 1976) Siahaan, Amirudin, dkk, Manajemen berbasis sekolah, (Jakarta, Quantum Teaching, cet. I, 2006) Mulyasa, E. Manajemen berbasi sekolah konsep, strategi, dan implementasi,(Bandung: PT Remaja Rosda Karya, cet 1 2002)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas 12

Tugas 8